Monday, 20 February 2012

Kebangkitan Agama dan Spiritualisme

SEKRETARIS JENDERAL PBB - Kofi Annan telah mengungkapkan bahwa Abad XX merupakan abad yang paling kejam, kerusakan tersebar di berbagai penjuru bumi dan darah pun tertumpah di mana-mana. Tragis, ini ulah manusia (QS 2:30). Memasuki Milenium Ketiga nasib manusia tetap buram. ”Climate change” dan krisis pangan menjadi ancaman, wabah penyakit merajalela, kemiskinan merayap ke segala arah, dan krisis BBM menambah sengsara. Aneka derita menghantui dunia, dan celakanya - manusia tampak semakin tidak berdaya. Pencemaran merambah daratan dan lautan, polusi menguap ke segenap lapisan biosfera, ”global warming” dan ancaman radiasi nuklir bahkan tampak semakin nyata. Konflik pembawa petaka tampil di banyak negeri, dan alam pun menabur aneka bencana.

John Houge mengungkapkan: “I contend that we all suffer from prophet’s block. Most of us have been programmed to act like ostriches, to hide our heads from premonition of change. A premonition of apocalypse – whether personal or global – may be a blessing in disguise. We can use precognition as an alarm to wake up in time and steer our destiny out of harm’s way.” (The Millenium Book of Prophecy, 1994).

PARADOX – namun di balik krisis lingkungan, yang seiring dengan  krisis peradaban global itu, tampak pula gejala kebangkitan agama-agama (Alvin Toffler), yang parallel dengan kebangkitan spiritualisme (John Naisbitt). Ini bisa ditanggapi sebagai pertanda masa transisi proses kebangkitan manusia menyongsong transformasi menuju Kebangkitan Peradaban Mondial Milenium Ketiga. Gejala semacam ini juga terlihat jelas di kawasan Nusantara, dan pesan-pesannya sebagian bisa dipahami oleh para ahli ma’rifat yang waskita. Fenomena ini tampil paradoxal, namun sesungguhnya bersifa

No comments:

Post a Comment